Emotion..?
Cara mengekspresikan emosi merupakan hal yang mendasar yang dapat membedakan binatang dan manusia. Bahkan, seekor simpanse akan marah ketika ia dipindahkan ke dalam kebun binatang oleh pemiliknya.Seekor lumba-lumba sirkus akan malu dan tidak akan menampakkan diri ke permukaan setelah ia menggigit jari sang pelatih. Selain itu, Sekerumunan gajah akan sedih dan murung ketika melihat salah datu diantara kawanannya mati.
Dari mempelajari spesies lain, serta perkembangan evolusu dari emosi manusia, kita ketahui bahwa emosi berperan khusus dalam perkembangan diri dan pembentukkan karekter diri kita. Namun, perlu kita ketahui juga bahwa emosi juga dapat mengarahkan pada sesuatu yang buruk, dimana kita dapat menderita akibat berbagai masalah.
Para pakar teori setuju atas adanya seperangkat emosi dasar berupa cinta, benci, takut, sedih, dan rasa bersalah. Serta perangkat emosi lainyang diturunkan dari emosi-emosi dasar tersebut.
Sebagai manusia, mungkin kita mengalami ratusan jenis emosi yang ada dalam diri kita, namun bukan hal terseut yang membedakan kita dengan species lain dan menjadikan manusia pada tempat puncak tangga evolusi. Kemampuan kita dalam mengolah emosi inilah yang menjadikan kita berbeda dengan species lain.
Pengendalian emosi seseorang menandakan nilai kepribadian apakah orang ini sudah beradab dan memiliki sopan santun ataukah tidak.
Para ahli saraf mengatakan bahwa emosi kita dikirimkan dan dikendalikan melalui system komunikasi secepat kilat dalam otak, yang didominasi oleh thalamus, amigdala, dan lobus frontal korteks, dan dengan dukungan berbagai struktur dan kelenjar otak yang mengirimkan informasikan dalam bentuk biokimia keseluruh bagian tubuh.
Ketika emosi berkuasa, maka kesadaran dan akal sehat sudah tidak berfungsi. Seperti contonya seorang ibu yang tega menghabisi nyawa ke tiga orang anaknya lalu mengakhiri hidupnya sendiri hanya dengan alasan yang sepele yaitu terlilit dengan kesulitan dalam ekonomi keluarga.
Berdasarkan teori evolusi, kemampuan kita untuk marah dan bertarung mati-matian telah memungkinkan bahwa species manusia brtahan sampai saat ini. Sifat lekas marah dan kebiasaan mengungkapkan kemarahan tanpa kendali telah menjadi masalah emosi yang sangat berbahaya.
Pengendalian emosi, khususnya amarah dan keagresivitas merupakan masalah emosi yang sangat lazim dihadapi oleh anak remaja dan anak-anak.
Emosi pada masa kanak-kanak mengenai sesuatu dapat menyebabkan trauma pada sesuatu, karena saat masih anak-anak ingatan kita sulit untuk menghapus rasa trauma tersebut dimasa dewasa.
Tidak semua informasi dalam thalamus dikirimkan secara langsung ke bagian berpikir otak. Sebagian dari itu pergi ke amigdala , yaitu bagian dari otak yang berfungsi megolah emosi. Amigdala dapat membaca dan menyampaikan terhadap berbagai masukkan lebih cepat, namun tidak seteliti korteks. Saat berada pada posisi emosi yang sangat darurat,, misalnya seorang anak yang berhadapan dengan anjing galak yang siap menggigit, amigdala mengaktifkan saraf yang berhubungan dengan kelenjar adrenal, yang kemudian akan mengeluarkan hormon epinerfin dan norepinerfin agar tubuh dapat bersiap-siap. Hormon-hormon ini mengaktifkan saraf vagus, yang mengirim sinyal balik ke amigdala.
Ketika mencoba untuk memahami aspek dari emosi itu sendiri dan anatomi saraf menyadarkan kita bahwa terdapat dua system yang ditempuh oleh kita ketika sedang belajar mengendalikan emosi. Bila kita memberikan rangsangan yang disebut kekuatan ego, kita sesungguhnya sedang mengaktifkan fungsi-fungsi korteks otak, tetapi kita mengabaikan system emosional otak yang berperan lebih besar dalam pengendalian emosi kuat.
Maka, dalam menyelesaikan masalah , kita harus mengajak otak agar memecahkan masalah menggunakan pemecahan berbasis telaah emosional , sehingga kita dapat mengajar otak emosional seperti halnya mengajar otak berpikir.
-Pungky m Taradipa-
