sastra” penjara”-Sori Siregar
Kutipan Karya Sastra Indonesia
Karya: Sori Siregar
PENJARA
(Karya: Sori Siregar)
Setiap kali aku masuk ke ruangan itu, setiap kali iu pula aku merasa dibelit rantai penjara. Kebebasanku dirampas. Segala gerakkanku dikomandokan dan semua gerak-gerikku diamati. Andang, pengawas merangkap wakil kepala bagian, mutlak menjadi penguasa tunggal di ruangan itu.
Celaka, dari dua puluh orang yang bekerja disini hanya empat orang yang merasa dibelenggu dalam penjara itu. Aku dan ketiga teman itulah yang sering baku hantam dengan Andang dalam perdebatan, tentang soal tetek bengek atau masalah-masalah prinsipil. Yang lain, anehnya, justru merasa penjara itu sebagai surga atau paling tidak fantasy island yang melimpah dengan bidadari cantik dan keberuntungan.
Anda dan semua kami sebenarnya merupakan korban dari sebuah sistem. Sistem itu tidak menyedihkan lobang yang dapat dilewati dengan aman. Semuanya tertutup rapat. Karena itu, sempurnalah ruangan kerja kami itu sebagai penjara yang sangat jahanam.
Menurut sistem yang diterapkan itu, kerja adalah kerja. Orang masuk ke ruangan hanya untuk bekerja. Tertawa, berbicara, membaca, bahkan kalau perlu batuk pun dianggap dosa. Namun menjaga konsistensi itu ternyata tidak mudah. Setiap hari mendapat jatah kerja. Jatuh itu harus rampung dalam waktu yang ditentukan: delapan jam. Tetapi tidak berarti kalau ada di antara kami yang dapat menyelesaikan kerja lebih cepat dari waktu yang tersedia, lantas ia akan bebas. Tidak.
Melalui mulut Andang, sistem datang memperingatkan: kalian dibayar menurut jam, bukan menurut jumlah kerja. Waktu delapan jam harus kalian isi, kalian penuhi dengan duduk baik-baik di ruangan itu. Jangan bicara, tertawa, membaca atau batuk.
Saudara-saudaraku yang enam belas orang, mengapa kalian diam saja, ketika kami berempat mempertanyakan sistem yang tidak masuk akal itu. Mungkin, mungkin saja, sistem yang disebut-sebut Andang sebagai dalih setiap kali mengeluarkan larangan itu, tidak sekejam yang kita rasakan. Mengapa kalian begitu sabar? Kesabaran kalian melebihi kesabaran nabi-nabi.
Hai saudara kami yang berempat, jawab mereka serentak. Dari semua tempat, inilah tempat terbaik bagi kami. Bagi kami tidak ada tempat yang lebih baik dari ini. Pahamilah itu. Kalian berempat kebetulan lebih beruntung dari kami. Kalian pernah bekerja di ruangan yang lain, kemudian ke ruangan yang lain lagi, begitu terus berpindah-pindah hingga akhirnya kalian terlempar tidak sengaja ke sini. Karena itulah kalian bisa menarik perbandingan. Karena itu kalian bisa menilai. Tetapi kami? Dari Lumpur kemelaratan yang dulu, kami diangkat ke ruangan sejuk dan menyenangkan ini. Inilah yang terbaik dari semua yang tersedia. Pahamilah itu. Janganlah ajak kami bergabung dengan kalian. Kalian sebenarnya lebih beruntung. Kalian adalah batang-batang pohon singkong yang dapat tumbuh walau dilempar di mana saja, sementara kami hanyalah kayu-kayu kering yang tidak mungkin tumbuh lagi.
Saudara kami yang enam belas orang. Kalian pernah mendengar barisan kata-kata as long as the king is satisfied? Tentunya pernah, karena kalian sendirilah yang menjajakan kata-kata itu. Apa artinya itu? Kalian telah merendahkan kita menjadi kacung. Kami berempat jelas keberatan dengan sikap kalian itu. Kami bukan kacung, dan kami tidak pernah dilatih untuk menjadi kacung. Lumpur kemelaratan justru mencetak kami menjadi orang bermartabat. Karena bermartabat itu pula kami memasukki kehidupan yang lebih baik. Dengan kehidupan yang sudah baik itulah kami ke sini, masuk ke ruangan ini, bekerja menjual jasa berdasarkan kontrak. Mereka tidak boleh mengharapkan apa yang dinamakan loyalitas, dedikasi, atau semacam itu. Ini bukan negeri kita. Kita menjual, mereka membeli.
Kesempatan dalam kontrak juga begitu. Tetapi mereka lancung, mereka menuntut lebih, dan membayar sedikit. Itu yang kami gebrak. Kami hanya menuntut janji, bukan menuntut yang tidak-tidak. Kembalikan martabat kalian. Martabat yang kalian gunakkan untuk menukar sepeda menjadi mobil dan mengubah gubuk menjadi rumah batu, tidak akan kalian miliki lagi kalau tidak kalian rampas.
Ah, saudara kami yang berempat. Biarlah kami kehilangan martabat itu, asal kesenangan yang kami miliki sekarang tidak lenyap. Sejak dulu kami tidak pernah mendapatkan kebahagiaan karena martabat itu. Kata itu justru terlalu berat untuk kami sandang.
Andang melirik dengan senang,. Sistem yang ada jungkir balik di tangannya. Ia menatap kami berempat dengan mencemooh. Kalian tahu, betapa kuatnya aku di sini ? katanya.
Kami menatap Andang dengan perasaan kasihan. Lumpur kemelaratan telah membuatnya jadi buas dan mayoritas kami di ruangan ini mempersubur kebuasannya itu.
Aneh, Andang yang diluar berkulit badak, tergetar juga naruninnya karena pandangan kasihan kami itu.
Walau secara formal saya tidak menyenangi kalian suka protes dan melancarkan kecaman itu, dalam hati kecil saya mengaguni kalian berempat. Dinamis, itulah kata yang tepat untuk kalian. Jiwa kalian belum mati seperti saudara kalian yang enam belas orang itu. Kalian kucemooh, kuhadapi dengan garang, tetapi tetap tidak dapat kutaklukkan karena api yang menyala dalam diri kalian itu.
Jangan salahkan saya, kalau saya bersikap mendua. Secara resmi saya membenci kalian, tetapi dalam nurani, kalian menduduki tempat tertinggi. Saya harus begitu. Bukankah kalian lihat bagaimana sikap saya terhadap kampong halaman? Saya masih merindukan kampong kita yang indah itu, dan kalau mungkin saya akan menikmati hari tua saya di sana. Status kebangsaan yang saya tukar tidak membuat saya menjadi pribumi di sini.
Saya tetapdianggap kelompok kelas dua. Dengan melahap roti dan keju setiap hari, mata saya tidak akan menjadi biru dan kulit saya tidak akan menjadi putih. Tetapi status saya harus saya tukar, untuk mempertahankan tempat yang saya duduki sekarang ini. Saya memang membayarnya terlalu mahal, apa boleh buat, karena saya tidak mempunyai pilihan lain. Lalu saudara kalian yang enam belas orang itu, pada perinsipnya sama dan sebangun dengan saya. Kalian tidak perlu mengasihi kami, cukup kalau kalian dapat memahaminnya saja.
Serentak kami berempat mengangguk. Itulah bedanya, batin kami. Kalian tidak mempunyai pilihan, kami justru terlalu banyak mempunyai pilihan.
Kalau begitu apa yang kita lakukan sekarang? Kami berempat saling bertanya. Akan kita tembuskah diding penjara jahanam ini?
Ah,mata itu, semua mata itu meminta penuh harap. Jangan hancurkan lading tempat kami memetik hasil ini. Atas nama kemanusiaan, jangan kalian lakukan itu.
Atas nama kemanusiaan kami menyerah, untuk sementara. Setiap hari kami datang dan pulang dari ruangan itu setelah delapan jam duduk baik-baik di sana, tanpa bicara bahkan tanpa batuk.
Celaka, begundal-begundal itu ternyata salah terima. Kami dianggap mulai akrab dan bersahabay dengan penjara ini. Lama-lama kan kalian terbiasa, kata mereka. Sebentar lagi kalian pun akan merasa ruangan ini sebagai fantasy island.
Wah, ini keterlaluan. Sekaranglah saatnya, teriak kami berempat. Hari itu penjara tersebut kami hancurkan. Diantara puing-puingnya kami saling berpandangan. Kami saling tersenyum dan mengerti. Hari itu kami berpisah dan memilih jalan sendiri-sendiri.
Dari balik puing-puing Andang dan keenam belas rekan kami itu bangun. Mereka membangun kembali penjara itu.
/Diambil dari Kumpulan Cerita Pendek Penjara, Balai Pustaka, 1992/

